ABORTUS INKOMPLIT

ABORTUS INKOMPLIT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG
Asuhan kesehatan ibu selama dua dasawarsa terakhir terfokus pada :     
a) Keluarga berencana, b) asuhan antenatal terfokus, c) asuhan pasca keguguran, d) persalinan yang bersih dan akan serta pencegahan komplikasi, e) penatalaksanaan komplikasi. Hal ini diberikan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sering disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan, eklamsia, sepsis dan komplikasi keguguran.
Abortus incomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Bila abortus incomplit tidak segera mendapat penanganan dapat menyebabkan terjadi sepsis, syok atau komplikasi lain yang dapat berakibat terhadap kesakitan dan kematian ibu.

1.2    TUJUAN
1.2.1    Tujuan Umum
Memenuhi tugas praktik klinik kebidanan program pendidikan D-III Kebidanan UNISLA.
1.2.2    Tujuan Khusus
Ø    Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan khususnya asuhan kebidanan yang diberikan pada inu bersalin dengan letak sungsang
Ø    Meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk berfikir kritis dan bertindak dengan logis, analistis dan sistematis dalam memberikan asuhan kebidanan disetiap jenjang pelayanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ibu
Ø    Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan pengkajian data, identifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan, antisipasi diagnosa, masalah potensial dan penanganannya, identifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi dan dapat melakukan pendokumentasian secara varney

1.3    RUANG LINGKUP
Dalam pembuatan makalah ini membahas tentang Asuhan Kebidanan pada Ny”N”       G1 P0000 U/K Minggu Dengan Abortus Incomplit di kamar bersalin RSUD Dr. SOEGIRI Lamongan
1.4    METODE PENULISAN
Makalah ini disusun dengan cara :
1.    Praktik lapangan
Metode kasus yang dibuat berdasarkan studi kasus yang ditemukan pada praktik lapangan
2.    Teknik pengumpulan data
Wawancara    : tanya jawab dengan klien
Observasi    : TTV, Pemeriksaan Fisik, pemeriksaan penunjang
3.    Sumber data
Primer    : subyektif dari klien dan obyektif dari hasil pemeriksaan
Sekunder    : diperoleh dari status klien
4.    Pelaksanaan
Pengumpulan data dilaksanakan dikamar bersalin RSUD Dr. Soegiri Lamongan yang dilaksanakan pada tanggal 07 September s/d 19 September 2009

BAB II
LANDASAN TEORI

I.    PENGERTIAN
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kelahiran kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram ( kapita selekta kedokteran : 260 ).
Abortus incompletus ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus ( Winkjsastro, Hanifa-Ilmu Kebidanan : 307)
Abortus incompit ialah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis (Saifudin, Abdul barri, dkk. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal : 147)
Abortus incomplit ialah bila sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus. (Mansjoer, Arif, dkk. Kapita selekta kedokteran : 263)

II.    ETIOLOGI
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab :
1.    Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kelahiran sebelum usia 8 minggu. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah
a.    Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom, poliploidi dan  monoromix.
b.    Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan hasil konsepsi terganggu.
c.    Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau, dan alkohol
2.    Kelainan pada placenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi manahun.
3.    Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmasis.
4.    Kelainan traktus genetalia, seperti inkompetensi serviks ( untuk abortus pada trimester kedua ), retroversi uteri, mioka uteri, dan kelainan bawaan uterus. Sebab lain abortus trimester ke-2 ialah serviks inkompeten, dilatasi serviks berlabihan, konisasi, amputasi, atau robekan serviks luas yang tidak dijahit.



III.    PATOGENESIS
Pada awal abortus terjadi perdarahan desidua basalis, di ikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus kemudian berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, vili korialis belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih 14 minggu janin dikeluarkan lebih dahulu dari pada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (blighted ovum) janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, karerasi atau fetus papiraesus

IV.    MANIFESTASI KLINIS
Terlambat haid atau aminorhor kurang dari 20 minggu. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil. Suhu badan normal atau meningkat. Perdarahan pervaginaan, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi. Rasa mules atau kram perut didaerah atas simpisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus
Pemeriksaan Ginekologi
a.    Inspeksi vulva : perdarahan pervaginaan, ada / tidak jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva
b.    Inspekula : perdarahan dari cavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah menutup. Ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium
c.    Colok vagina, porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus, sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat portio digoyang, tidak nyeri perabaan adneksa, kavu , douglari tidak menonjol.  

V.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus
Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed Abortion


VI.    KOMPLIKASI
-    Pendarahan, perforasi, syok, dan infeksi
-    Pada missed abortion dengan retensi lama konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah

VII.    DIAGNOSIS
Berdasarkan keadaan janin yang sudah dikeluarkan, abortus dibagi atas :
1.    Abortus iminensi pendarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa ada tanda – tanda dilatasi serviks  yang meningkat
2.    Abortus insipiens, bila pendarahan diikuti dengan dilatasi serviks
3.    Abortus incomplit, bila sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus. Bila abortus incomplit disertai infeksi genetalia disebut abortus infeksiosa.
4.    Abortus komplit, bila seluruh jaringan janin sudah keluar dari uterus
5.    Missed abortion, kematian janin sebelum 20 minggu, tetapi tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.

VIII.    PENATALAKSANAAN
§    Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi (pendarahan hebat, syok, infeksi/ sepsis)
§    Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai pendarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi pendarahan.
- bila pendarahan berhenti, beri ergometrin 0.2 mg im atau misoprostol 400 mg per oral
- bila pendarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K (pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian – bagian janin
§    Bila tidak ada tanda – tanda infeksi, beri antibiotik profilaksis lampisilin 500 mg oral atau doksilin 100 mg
§    Bila terjadi nfeksi, beri ampisilin 19 dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam
§    Bila terjadi pendarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi dengan AVM
§    Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas forosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfusi darah (anemis berat)
Pada beberapa kasus, abortus incomplit erat kaitannya dengan abortus tidak aman, oleh sebab itu perhatikan hal- hal berikut ini :
·    Pastikan tidah ada komplikasi berat seperti sepsis, perforasi uterus, atau cidera intra-abdomen (mual/mintah, nyeri punggung, demam, perut kembung, nyeri perut bawah, dinding perut tegang, nyeri ulang lepas )
·    Bersihkan ramuan tradisional, jamu, bahan  kaustik, kayu atau benda- benda lainnya dari regio genetalia
·    Berikan boster tetanus toksoid 0.5 ml bila tampak luka kotor pada dinding vagina atau kanalis servisis dan pasien pernah diimunisasi
·    Bila riwayat pemberian imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus (ATS) 1500 unit im diikuti dengan pemberian tetanus toksoid 0.5 ml setelah 4 minggu
·    Konseling untuk kontrasepsi pasca keguguran dan pemantauan lanjut



BAB IV
PENUTUP

1.    KESIMPULAN
Abortus incomplet adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Dengan memberikan asuhan pasca keguguran untuk menata. Laksana gawat darurat keguguran dan komplikasinya serta tanggap terhadap kebutuhan pelayanan reproduksi lainnya.

2.    KRITIK DAN SARAN
Dalam setiap memberikan asuhan kebidanan kepada klien diharapkan selalu berpacu dengan teori yang ada dan lebih menerapkan gerakan sayang ibu.

Comments