ASUHAN KEBIDANAN ANAK DENGAN IMUNISASI DTP HB

ASUHAN KEBIDANAN ANAK DENGAN IMUNISASI DTP HB

 Definisi
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu. (Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga, 1998 : 47)
Imunisasi adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit tertentu. (Kebidanan Komunitas : 164)
JENIS-JENIS KEKEBALAN
a.       Kekebalan aktif
Adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.
Kekebalan aktif dibagi dalam 2 jenis antara lain :
1.      Aktif alamiah
Dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami / sembuh dari suatu penyakit.
2.      Aktif buatan
Kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi)
b.      Kekebalan pasif
Adalah tubuh anak tidak membuat zat anti bodi sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak, sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan lama.
Kekebalan pasif dibagi dalam 2 jenis antara lain :
1.      Pasif alamiah atau pasif bawaan
Yaitu kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira-kira hanya sekitar 5 bulan setelah bayi lahir, misalnya difteri, morbili dan tetanus.
2.      Pasif buatan
Kekebalan ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak. Misalnya pemberian vaksinasi ATS (Anti Tetanus Serum)
(Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga, 1998 : 47-48)


Tujuan
Tujuan dari pemberian imunisasi adalah ;
1.      Untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu
2.      Apabila terjadi penyakit, tidak akan terlalu parah
3.      Mencegah geja;a yang dapat menyebabkan cacat dan kematian
(Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga : 48)

2.3        Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD31)
Ø      Jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31) adalah :
a.       Difteri
b.      Pertusis
c.       Tetanus
d.      Tuberkulosis
e.       Campak
f.       Poliomielitis
g.      Hepatitis B
Ø      Gejala penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31)
a.       Difteri
Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri “corynebacterium diphterine” Penyebarannya adalah melalui kontak fisik dan pernafasan. Gejala awal penyakit adalah radang tenggorokan, hilang nafsu makan dan demam ringan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Difteri dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pernafasan yang berakibat kematian.
b.      Pertusis
Disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari adalah penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri “Bordetella Pertusis). Penyebab pertusis adalah melalui percikan ludah (droplet infection) yang keluar dari batuk atau bersin.
Gejala penyakit ini adalah pilek, mata merah, bersin demam, dan batuk ringan yang lama-kelamaan batuk menjadi parah dan menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras. Komplikasi pertusis adalah “Pneumonia Bacterialis” yang dapat menyebabkan kematian.


c.       Tetenus
Adalah penyebab yang disebabkan oleh “Clostridium tetani” yang menghasilkan neurotoksin. Penyakit ini tidak menyebar dari orang ke orang, tetapi melalui kotoran yang masuk ke dalam luka yang dalam. Gejala awal penyakit adalah kaku otot pada rahang disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam.
Pada bayi terdapat juga gejala berhenti menetek (sneking) antara 3-28 hari setelah lahir. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasi tetanus adalah patah tulang akibat kejang, pneumonia dan infeksi lain yang dapat menimbulkan kematian.
d.      Tuberkulosis
Adalah penyakit yang disebabkan oleh “Mycobacterium Tuberculosa” (disebut juga batuk darah). Penyakit ini menyebar melalui pernafasan, lewat bersin atau batuk, gejala awal penyakit adalah lemah badan, penurunan berat badan, demam dan keluar keringat pada malam. Gejala selanjutnya adalah batuk terus-menerus, nyeri dada dan (mungkin) batuk darah. Gejala lain tergantung pada organ yang diserang. Tuberkulosis dapat menyebabkan kelemahan dan kematian.
e.       Campak
Adalah penyakit yang disebabkan oleh virus mixovirus viri dae maesles. Disebarkan melalui udara (percikan ludah) sewaktu bersin atau batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek konjungtivis (mata merah). Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki.
Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga dan infeksi saluran nafas (pneumania)
f.       Poliomielitis
Adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan yaitu virus polio tipe 1, 2 atau 3.
Secara klinis penyakit polio adalah anak di bawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flakid paralysis = AFP)
Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kumpulan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kemudian bisa terjadi karena kelumpuhan otot-otot pernafasan terinfeksi.

g.      Hepatitis B
Hepatitis B (penyakit kuning) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penularan penyakit adalah secara horizontal yaitu dari darah dan melalui hubungan seksual. Sedangkan penularan secara vertikal yaitu dari ibu ke bayi selama proses persalinan.
Infeksi pada anak biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala yang ada dalah merasa lemah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu. Urin menjadi kuning, kotoran menjadi pucat, warna kuning bisa terlihat pula pada mata ataupun kulit. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan pengerasan hati, kanker hati dan menimbulkan kematian.
(Pelatihan safe injection, unicef. 2005 : 2-3)

Klasifikasi Vaksin
Vaksin adalah kuman atau racun kuman yang dimasukkan ke dalam tubuh bayi / anak yang disebut antigen.
(Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga : 47)
Jenis vaksin yang digunakan di Indonesia banyak macamnya pada dasarnya vaksin dibuat dari :
a.       Vaksin dari kuman hidup yang dilemahkan seperti :
1.      Virus campak dalam vaksin campak
2.      Virus polio dalam jenis sabin pada vaksin polio
3.      Kuman TBC dalam vaksin BCG
b.      Vaksin dari kuman yang dimatikan seperti :
1.      Bakteri pertusis dalam DPT
2.      Virus polio jenis salk dalam vaksin polio
c.       Vaksin dari racun / toksin kuman yang dilemahkan :
1.      Racun kuman seperti toxoid (++) diptheria toxoid dalam DPT
d.      Vaksin yang terbuat dari protein khusus kuman :
1.   Vaksin yang dibuat dari protein seperti Hepatitis B.
Untuk menggunakan vaksin, beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut :
a.       Persyaratan pemberian vaksin
1.      Pada bayi dan anak yang sehat
2.      Pada bayi yang sedang sakit
-          Sakit keras
-          Dalam masa tunas suatu penyakit
-          Definisi immunologi
3.      Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa berlakunya.
4.      Memberikan imunisasi dengan teknik yang tepat
5.      Mengetahui jadwal vaksinasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang diterima
6.      Meneliti jenis vaksin yang akan diberikan
7.      Memperhatikan dosis yang akan diberikan
b.      Cara pengambilan vaksin dan penyuntikannya, pengambilan vaksin harus hati-hati dengan cara sebagai berikut :
1.      Bagian tengah tutup botol metal dibuka sehingga kelihatan karet
2.      Tutup karet didesinfeksi dengan desinfektan
3.      Ambil jarum yang steril dengan spuitnya untuk menghisap vaksin ke dalam spuit
4.      Kulit yang akan disuntik didesinfektan, kemudian dibersihkan dengan kapas air hangat baru dilakukan penyuntikan
(Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga, 1993 : 48-49)

Jenis dan Sifat Vaksin
a.       Penggolongan vaksin
Vaksin dapat digolongkan menurut sensitivitas terhadap suhu. Ada 2 golongan, yaitu :
1.      Vaksin yang sensitif terhadap beku (freeze sensitive : FS) yaitu : vaksin DPT, DT, TT, Hepatitis B dan DPT - HB
2.      Vaksin yang sensitif terhadap panas (Heat Sensitive: HS) yaitu : Vaksin campak, polio dan BCG
b.      Jenis-jenis vaksin
Vaksin-vaksin yang saat ini dipakai dalam program imunisasi rutin di Indonesia adalah :
1.      Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine)
·         Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosis
·         Cara pemberian dan dosis :
-          Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml)
-          Dosis pemberian : 0,05 ml, sebanyak 1 kali
-          Disuntikkan secara intracutan di daerah lengan kanan atas (Insertio Muslulus Deltoideus) dengan menggunakan ADS 0,05 ml
-          Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam
·         Kontra Indikasi
-          Adanya penyakit kulit yang berat / menahun, seperti : eksim, furunkulosis dan sebagainya.
-          Mereka yang sedang menderita TBC
·         Efek samping
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam. Setelah 1-2 minggu akan timbul indurasi dan kemerahan di tempat suntikan yang berubah menjadi postula, kemudian pecah menjadi luka, luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut, kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di ketiak dan atau leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya.
2.      Vaksin DPT
·         Diskripsi
Vaksin jerap DPT (dipteri, pertusis, tetanus) adalah vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetenus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang telah dinaktivasi.
·         Indikasi
Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadapdifteri, pertusis dan tetanus
·         Cara pemberian dan dosis
-          Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
-          Disuntikan secara intramuskuler dengan pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis
-          Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu (1 bulan)
·         Kontra indikasi
Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontra indikasi pertusis. Anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua dan meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT
·         Efek samping
Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti : lemas, demam, kemerahan pada tempat penyuntikan, kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas dan merancau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi.
3.      Vaksin TT
·         Diskripsi
Vaksin jerap TT (Tetanus Toxoid) adalah vaksin yang mengandung toxoid tetanus yang telah dimurnikan dan terabsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Satu dosis 0,5 ml. Vaksin mengandung potensi sedikitnya 40 IU. Dipergunakan untuk mencegah tetanus pada bayi.
(Vademeeum Bio Karma, Januari 2002)
·         Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus
·         Cara pemberian dan dosis
-          Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
-          Untuk mencegah tetanus / tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikan secara intra muskuler atau subkutan dalam dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ketiga dan keempat. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester pertama.
·         Kontra indikasi
Gejala-gejala beratkarena dosis pertama TT
·         Efek samping
Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan, gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara dan kadang-kadang gejala demam.
4.      Vaksin DT
·         Diskipsi
Vaksin jerap DT (Difteri dan Tetanus) adalah vaksin yang mengandung loxoid difteri dan tetanus yang telah dimurnikan.
(Vademacum Bio farma, Januari 20020)
·         Indikasi
Untuk pemberian kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus
·         Cara pemberian dan dosis
-          Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
-          Disuntikkan secara IM atau SC dalam dengan dosis 0,5 ml. Dianjurkan untuk anak di bawah 8 tahun atau lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin TD
·         Kontra indikasi
Gejala-gejala berat karena dosis pertama DT
·         Efek samping
Gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara, dan kadang-kadang gejala demam
5.      Vaksin polio
·         Diskripsi
Vaksin oral polio hidup adalah vaksin polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1, 2 dan 3 (strain sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal keras dan distabilkan dengan sukrosa.
·         Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis
·         Cara pemberian dan dosis
-          Diberikan secara oral (melalui mulut) 1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu
-          Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru
·         Kontra indikasi
Pada individu yang menderita “immune deficiency” tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan misalnya sedang menderita diare, maka ulangan dapat diberikan setelah sembuha.
·         Efek samping
Pada umumnya tidak terdapat efek samping, efek samping berupa poralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (kurang dari 0,17 : 1.000.000 ; Bull WHO 66 : 1988)
6.      Vaksin campak
·         Diskripsi
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan, setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin (vademeceum biofarma, Januari 2002)
·         Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak
·         Cara pemberian dan dosis :
-          Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut
-          Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada anak sekolah dasar kelas 5-6.
·         Kontra indikasi
Indivisu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma
·         Efek samping
Hingga 15% px dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.
7.      Vaksin hepatitis B
·         Diskripsi
Adalah vaksin virus recombinan yang telah diinaktifasikan dan bersifat non-infeclous, berasal dari HBs Ag yang dihasilkan dalam sel ragi (hansenula Polymerpha) menggunakan teknologi DNA recombinan (Vademecum bio farma, Jan 2002)

·         Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B
·         Cara pemberian dan dosis
-          Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
-          Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 (buah) HB PID, pemberian suntikan secara IM sebaiknya pada anterolateral paha
-          Pemberian sebanyak 3 dosis
-          Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan)
·         Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin sama halnya seperti vaksin-vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada pasien penderita infeksi berat yang disertai kejang.
·         Efek samping
Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan disekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.
Jadwal Pemberian Imunisasi
Vaksin
Pemberian imunisasi
Selang waktu Pemb.
Umur
Keterangan
BCG
DDT
Polio
Campak
Hep. B
1 x
3 x (DDT 1,2,3)
4 x (Pol 1,2,3,4)
1 x
3 x (hep. 1,2,3)
-
4 minggu
4 minggu
-
4 minggu
0 – 11 bln
2 – 11 bln
0 – 11 bln
9 – 11 bln
0 – 11 bln




Untuk bayi yang lahir di rumah sakit/puskesmas HB, BCG dan polio dapat segera diberikan

(Modul latihan petugas imunisasi, edisi 7, 2000. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Def Kes dan Kesehatan Sosial R.I Jakarta : 13)

Alternatif I
Umur
Antigen
0 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan
HB I, BCG, Polio 1
HB 2, DPT, polio 2
HB 3, DPT 2, polio 3
DPT 3, polio 4
Campak


Alternatif II
Umur
Antigen
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan
BCG, Polio I, DPT I
HB I, Polio 2, DPT 2
HB 2, Polio 3, DPT 3
HB 3, Polio 4, Campak

Comments