Ketuban Pecah Dini

Ketuban Pecah Dini

Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung, ketuban pecah dini merupaan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi khoniomniotis sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu.
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia serta adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan.
  • Macam-macam kelainan pada air ketuban
  1. Polyhidramnion = hidramnion
    Yaitu air ketuban paling banyak pada minggu ke-38 sebanyak 1030 cc pada akhir kehamilan tunggal 790 cc dan terus berkurang sehingga pada minggu ke-43 hanya 240 cc.
  2. Oligohydramnion
    Jika air ketuban kurang dari 500 cc
  • Fungsi air ketuban
  1. Saat hamil sedang berlangsung
    Memberikan kesempatan berkembang 4 janin dengan bebas ke segala arah
    Menyebabkan tekanan bila terjadi trauma langsung
    Sebagai penyangga terhadap panas dan dingin
    Menghindari trauma langsung terhadap janin
  2. Saat Inpartu
    Menyebabkan kekuatan his sehingga serviks dapat membuka
    Membersihkan jalan lahir karena mempunyai kemampuan sebagai desinfektan
    Sebagai pelicin saat persalinan
  • Penentuan Klinik
  1. Tentukan pecahnya selaput ketuban. Pecahnya selaput ketuban ditentukan dengan adanya cairan ketuban dari vagina jika tidak ada dapat dicoba dengan digerakkan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien, batuk/mengejan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitratin test) merah menjadi biru membantu dalam menentukan jumlah ciran ketuban dan usia kehamilan serta kelainan janin.
  2. Menentukan usia kehamilan bila perlu dengan pemeriksaan USG
  3. Menentukan ada tidaknya infeksi (suhu) 380C, air ketuban yang keruh dan berbau, leukosit darah > 15.000/mm3
  4. Menentukan tanda-tanda inpartu
  • Penanganan ketuban pecah dini
  1.  Konservatif
    Rawat di rumah sakit
    Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau), berikan antibiotik sama hanya jika terjadi Amnionitis
    Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu ibu dan janin, yaitu Ampicilin 4 x 500 mg selama 7 hari ditambah eritnomisid 250 mg peneral 3 kali perhari selama 7 hari.
    Berikan kersikosteroid kepada ibu untuk memperbaiki kematangan paru janin yaitu Betametason 12 mg I M dalam 2 dosis setiap 12 jam atau Deksametason 12 mg I M dalam 4 dosis setiap 6 jam dan jika ada infeksi jangan berikan kortikosteroid.
    Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu
    Jika terdapat His dan darah bercampur lender, kemudian terjadi persalinan preterm.
    Jika tidak terdapat infeksi dan kehamilan > 37 minggu
    Jika ketuban pecah > 18 jam, berikan antibiotik profilaksis untuk mengurangi resiko infeksi, streptokokus grip B yaitu amphisilin 2 gr IV setiap 6 jam/persilin 62 juta unit IV.
    Niai serviks belum matang lakukan induksi persalinan dengan Oksitosin. Jika belum matang, berikan prostaglandin 5 infus Drip oxytosin/sc.
Prinsip Dasar
  • Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
  • Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi khoriomnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan menyebabkan infeksi ibu.
  • Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
  • Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda-tanda persalinan.
Penilaian Klinik
  • Tentukan pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (Nitrazin test) merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, kelainan janin.
  • Tentukan usia kehamilan bila perlu dengan pemeriksaan USG
  • Tentukan ada tidaknya infeksi, tanda-tanda infeksi bila suhu ibu ³ 380 C, air ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA (leukosit estrase). Leukosit darah > 15.000/mm3. Janin yang mengalami tekhikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterin.
  • Tentukan tanda-tanda inpartu. Tentukan adanya kontraksi yang teratur, periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan) antara lain untuk menilai skor pelvik.
Penanganan
  • Konservatif
  1. Rawat di rumah sakit
  2. Berikan antibiotika (ampisilin 4 x 500 mg atau entromisin bila tak tahan ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
  3. Jika umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
  4. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes basa negatif beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
  5. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
  6. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.
  7. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi intrauteri)
  8. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitinm dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
  • Aktif
  1. Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprostot 50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
  2. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi, dan persalinan diakhiri.
  • Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea.
  • Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam
(Sumber : Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal hal : 218-219)

Comments