Askeb Patologi Dengan PEB

Askeb Patologi Dengan PEB

 PRE-EKLAMSI BERAT

Pre eklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan protein uria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi pada trimester 3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa (Sarwono, Ilmu Kebidanan, 282).
Penyebab pre eklampsia sampai sekarang belum diketahui, frekuensi kejadian pre eklampsia berbeda-beda karena banyak faktor, diantaranya paritas, keadaan social ekonomi, dan adanya penyakit-penyakit penyerta seperti diabetes mellitus molahidatidosa dan hamil ganda.
Penanganan pre eklampsia yaitu dengan pemberian solfas magnekus, obat-obatan anti kejang, obat anti hipertensi dan bila perlu diberikan diuretika, tentunya dengan perimbangan kondisi pasien.
Pre eklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan protein uria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi pada Triwulan ke 3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa (Sarwono, Ilmu Kebidanan, 282).
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, banyak teori-teori dikemukakan, namun belum ada yang memberikan jawaban memuaskan teori. Yang sekarang dipakai sebagai penyebab pre eklampsia adalah teori iskemia plasenta, namun teori ini belum dapat menerangkan semua hal yang berkaitan dengan penyakit ini. 

Perubahan Organ Karena Pre-Eklampsia
ð     Otak
Pada pre-eklampsia aliran darah dan pemakaian O2 tetap dalam batas normal.
ð     Plasenta dan Rahim
Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta sehingga terjadi gangguan. Pertumbuhan janin dan karena kekurangan O2 terjadi gawat janin. Pada pre-eklampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaannya terhadap rangsangan, sehingga terjadi partus prematurus.
ð     Ginjal
Filtrasi glomerolus berkurang karena aliran ke ginjal menurun yang menyebabkan filtrasi natrium menurun, sehingga terjadi retensi garam dan air. Filtrasi glomerolus dapat turun sampai 50% dari normal, sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oligouria dan anuria.
ð     Paru-paru
Paru-paru menunjukkan berbagai tingkat edema dan perubahan karena bronkopneumonia sebagai akibat respirasi kadang-kadang ditemukan abses paru-paru.

ð     Mata
Pada PEB terdapat edema retina spasme pembuluh darah dan dapat terjadi ablasio retina yang merupakan indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan.
 Keseimbangan Air dan Elektrolit
Pada PEB kadar gula naik sementara, asam laktat dan asam organik lainnya, sehingga cadangan alkali dan turun (Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri, 199).

 Tanda dan Gejala Pre-Eklampsia Berat
Pre eklampsia berat bila satu atau lebih tanda dan gejala di bawah ini ditemukan.
1.      Tekanan darah sistolik > 160 mmHg
2.      Tekanan darah diastolic 110 mmHg
3.      Peningkatan kadar enzim hati / ikterus
4.      Trombosit < 100.000/ mm2
5.      Oligouria < 400 ml / 24 jam
6.      Proteinuria > 30 / liter
7.      Nyeri epigastrium
8.      Perdarahan retina
9.      Edema pulmonim 
10.  Gangguan serebral dan virus

Komplikasi
A. Pada Ibu
1.      Atonia uteri
2.     Sindrom Hellp ( Hemolisis, elevated, liver enzimes, Low, platelet count )
3.      Ablasi retina
4.      KID ( Koagulasi Intravaskuler Diseminata )
5.      Gagal ginjal
6.      Perdarahan otak
7.      Edema paru
8.      Gagal jantung
9.      Syok
10.  Kematian
11.  Eklamsi

B.   Pada janin
Berdasarkan  akut ? kronisnya insufisiensi uteriplasental, misalnya :
1.      Pertumbuhan janin terhambat
2.      Prematuritas
3.      IUGR
4.      IUFD
5.      Gawat janin
( kapita selekta kedoktera jilid 1, 2001 : 27 )

  Diagnosis
Diagnosis pre-eklamsi di dasarkan atas dasarnya trias klasik HPE :
1.      Hipertensi
2.      Edema
3.      Proteinuria
( Ilmu kebidanan, 2006:290)

Pencegahan
Pemeriksaan ANC yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda – tanda dini pre-eklamsi dan dalam hal itu harus di lakukan penanganan semestinya, namun frekuensinya dapat di kurangi denga pemberian informasi secukuonya dan pelaksanaan pengawasan yang baik pada wanita hamil.
Penjelasan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berbaring di tempat tidur,namun pekerjaan sehari-hari perlu di kurangi dan di anjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak,karbohidrat,garam dan peambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu di anjurkan.
Mengenal secara dini pre-eklamsi dan segera merawat penderitaan tanpa memberikan diuretika dan obat anti hipertensi,memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatalyang baik. (ilmu kebidanan, 2006:290 )

Penatalaksanaan
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala – gejala pre eklampsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi :
a. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal.
b. Perawatan konvertatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pegobatan medicinal.
a.1. Perawatan Aktif
Sedapat mungkinsebelum perawatan aktif pada setiap penderita yang dilakukan pemeriksaan fetal assessment (NST & USG).
Indikasi
a.       Ibu
·        Usia kehamilan 37 minggu atau lebih.
·        Adanya tanda – tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaian desakan darah atau setelah 24 jam perawtan medicinal, ada gejala – gejala status quo (tidak ada perbaikan)
b.      Janin
·        Hasil fetal assessment jelek (NST & USG)
·        Adanya tanda IUGR
c.       Laboratorium
· Adanya “HELLP syndrome”(hemosilis dan peningkatan fungsi hepar, trombositopenia).

Pengobatan Medisinal
Pengobatan medicinal pasien pre eklampsia berat yaitu :
1.      Segera masuk rumah sakit.
2.      Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, reflek patella setiap jam.
3.      Infus dextore 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infuse RL (60-125 cc/jam) 500cc.
4.      Antasida
5.      Diet cukup proyein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.
6.      Pemberian obat anti kejang : magnesium sulfat
7.      Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda – tanda edema paru, payah jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/im.
8.      Antihipertensi diberikan bila :
a.   Desakan darah sistols lbih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAP lebih 125mmHg. Sasaran pengobatan adalah teanan diastolis kurang 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta
b.      Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertansi pada umumnya.
c.  Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah seceptnya, dapat diberikan obat – obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang biasa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infuse atau press disesuaikan dengan tekanan darah.
d.  Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat dierikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara oral.
(Syakib Bakri, 1997).
9.      Karbondioksida
Indikasinya bila ada tanda – tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalis cepat dengan cedilanid D.
10.  Lain – lain :
        Konsul bagian penyakit dalam / jantung mata.
    Obat – obat antipiretik diberikan bila suhu rectal lebih 38,5 derajat celcius dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc IM.
        Antibiotik diberikan atas indikasi. (4) Diberikan ampicilin 1 gr/6 jam/IV/hari.
   Anti nyeri bila penderita keakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja elambat – lambatnya 2 jam sebelum janin lahir.


Penanganan Kejang
       Beri obat antikonvulsan
Cara pemberian magnesium sulfat :
1.       Dosis awal
-    Sekitar 4 gram MgSO4 IV (20% dalam @0 cc) selama 1 gr/menit, kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit).
-     Diikuti segera 4gr di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no 21 panjang 3,7 cm.
-     Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2% yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.
2.     Dosis Ulangan
-  Diberikan 4 gram intramuskuler 40% setelah 6 jam pemberian dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melibihi 2-3 hari.
3.     Syarat – syarat pemberian MgSO4
        Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gulconas 10%, 1 gram (10% dalam 10 cc) diberikan intravenous dalam 3 menit.
        Refleks pattela positif kuat
        Frekuensi pernapasan lebih 16 kali per menit.
        Produksi urine minimal 100 cc/jam dalam 4 jam terakhir
4.      MgSO4 dihentikan bila :
     Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologis menurun, fungsijantung terganggu, depresi SSp, kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot – otot pernapasan karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter terjadi kematian jantung.
        Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat
-         Hentikan pemberian magnesium sulfat
-         Berikan calcium sluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit.
-         Berikan oksigen
-         Lakukan pernapasan buatan
      Magniesium sulfat dihentikanm juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif)
(Asuhan Patologi Kebidanan Hal : 61 – 65)
   Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedotan, masker dan balon oksigen)
        Beri O2 4 – 6 liter / menit.
        Lindungi pasien dari kemungkinan trauma, tetapi jangan diikat terlalu keras.
        Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi tradelenburg untuk mengurangi resiko aspirasi
        Setelah kejang, aspirasi mulut dan tenggorokan jika perlu.
(Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002 : M-38 s/d M-39 dan Buku Acuan Nasional Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006 : 212)

Comments