Showing posts with label ASUHAN KEPERAWATAN. Show all posts
Showing posts with label ASUHAN KEPERAWATAN. Show all posts

Sunday, June 10, 2012

HIPEREMESIS GRAVIDARUM


Masa kehamilan merupakan masa yang dimulai sejak adanya konsepsi sampai lahirnya janin yang lamanya sampai 280 hari (40 mgg atau 9 bulan) dihitung mulai dari haid pertama hari terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan dimana dalam setiap kehamilan selalu melebarkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial di dalam keluarga.
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk
(Mansjoer,dkk. Kapita Selekta Kedokteran.359.)
Oleh karena itu sebaiknya ibu hamil dianjurkan untuk mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin untuk memeriksakan kehamilannya atau yang disebut juga dengan antenatal care yakni perawatan yang diberikan pada ibu selama masa kehamilan dan juga untuk memonitor pertumbuhan janin dalam kandungan. Ante natal care sebaiknya dilakukan paling sedikit 4x selama kehamilan.

Pengertian
Kehamilan adalah masa yang dimulai dengan konsep (pembuahan) dan berakhir dengan permulaan persalinan. (Obstetri Fisiologis, 1993 : 3)
Kehamilan adalah masa yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya bayi/janin. (Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, 2006 : 89)
Ø      Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari :
1.      Ovulasi pelepasan ovum
2.      Terjadi migrasi spermatozoa dan ovum
3.      Terjadi konsepsi + pertumbuhan zigot
4.      Terjadi nidasi (implantasi) pada uterus
5.      Pembentukan plasenta
6.      Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm
(Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan : 95)
Ø      Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280 hari (40 mgg) dan tidak lebih dari 300 hari (43 mgg) dengan demikian kehamilan dibagi 3 yaitu :
1.      Kehamilan matur (cukup bulan) : Usia kehamilan 40 minggu
2.      Kehamilan post matur : Usia kehamilan ³ 43 minggu
3.      Kehamilan prematur : Usia kehamilan 28-36 minggu
Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi 3 yaitu :
1.      Kehamilan trimester I : Mulai konsepsi – 3 bulan (0-12 mgg)
2.      Kehamilan trimester II : Mulai bulan ke 4 – 6 bulan (12-28 mgg)
3.      Kehamilan trimester III : Mulai bulan 7 – 9 bulan (28-40 mgg)
Penilaian Tanda dan Gejala Kehamilan
1.      Tanda-tanda dugaan hamil
a.       Amenorea
b.      Mual muntah
c.       Ngidam
d.      Pingsan
e.       Payudara tegang
f.       Sering BAK
g.      Konstipasi / obstipasi
h.      Pigmentasi kulit
i.        Epulis
j.        Varises
2.      Tanda tidak pasti hamil
a.       Pembesaran rahim
b.   Pada periksa dalam dijumpai : tanda hegar, tanda chadwich, pisoaseak, kontraksi braxton hicks, teraba ballotement
c.       Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif
3.      Tanda pasti hamil
a.       Gerakan janin dalam rahim
b.      USG : melihat gambaran janin
c.       Denyut jantung janin ada
d.      Sinar x : melihat kerangka janin
(Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan : 125 – 126)

Perubahan-perubahan Fisiologis pada saat Kehamilan
Perubahan-perubahan ini dipengaruhi hormon gonatotropin, esterogen dan progesteron yang dikeluarkan oleh placenta, diantaranya perubahan pada :
a.       Rahim (Uterus)
Semula beratnya 30 gr, mengalami hyperthropy dan hyperplasia menjadi 1000 gr. Adanya tanda hegar yaitu istmus uteri menjadi lebih panjang dan lunak. Pertumbuhan rahim tidak sama kesemua arah, lebih cepat pada daerah implantasi plasenta sehingga bentuknya menjadi tidak sama, ini disebut tanda piskacek.
Tanda braxton hicks adalah adanya kontraksi rahim karena progesteron mengalami penurunan.
b.      Vagina
Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh esterogen sehingga tampak makin merah dan kebiru-biruan (tanda chadwick)

c.       Ovarium
Indung telur mengalami / mengandung korpos luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur 16 minggu.
d.      Payudara
Mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan laktasi pada saat masa laktasi, ini dipengaruhi oleh hormon esterogen dan progesteron dan somatotropin. Perubahan payudara diantaranya:
-          Menjadi lebih besar
-          Areola mammae makin hyperpigmentasi
-          Glandula monigometri makin tampak
-          Puting susu makin menonjol
-      Pengeluaran ASI belum berlangsung karena prolaktin belum berfungsi karena hambatan dari PH untuk mengurangi ASI
-          Setelah persalinan, hambatan prolaktin tidak ada sehingga pengeluaran ASI bisa berlangsung
e.       Sirkulasi darah ibu
1.      Volume darah serum bertambah 25%-38% x besar dari sel darah (20%) curah jantung bertambah 30% haemodilusi darah mulai tampak sekitar 16 minggu
2.      Sistem respirasi
Pada usia 32 minggu terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar, pernafasan meningkat 20% - 25%.
3.      Sel darah
Terjadi haemodilusi yang disertai anemia fisiologis sel darah meningkat sebesar 10.000/ml. LED meningkat mencapai 4x dari angka normal.
4.      Sistem pencernaan
Pengeluaran asam lambung meningkat dipengaruhi oleh esterogen yang dapat menyebabkan :
-          Pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi)
-          Daerah lambung terasa panas
-          Mual, terutama di pagi hari (morning sickness)
-          Muntah
-          Progesteron menimbulkan gerak usus berkurang dan menyebabkan obstipasi
5.      Traktus Urinarius
Sering miksi karena desakan kandung kemih, filtrasi pada glomelorus bertambah sekitar 69% - 70%
6.      Perubahan pada kulit
Menjadi hiperpigmentasi pada strie gravidarum, lividae/alba areola mammae, linea nigra, cloasma gravidarum
7.      Metabolisme
Kebutuhan nutrisi makin meningkat untuk pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI

Pertumbuhan dan Perkembangan Janin
Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan sub faktor sbb :
a.       Faktor ibu
-          Keadaan kesehatan ibu saat hamil
-          Penyakit yang menyertai kehamilan
-          Penyakit kehamilan
-          Kelainan pada uterus
-          Kehamilan tunggal / ganda / triple
-          Kebiasaan ibu seperti merokok, alkohol, kecanduan
b.      Faktor janin
-          Jenis kelamin
-          Penyimpangan genetik, kelainan kongenital
-          Pertumbuhan abnormal
-          Infeksi intra uterin

Tes Kehamilan
Dipakai pemeriksaan hormon HCG dalam urin dasar reaksi antigen, antibodi dengan HCG sebagai antigen cara yang banyak digunakan adalah hemoglutinasi

Diagnosa Banding Kehamilan
a.       Hamil palsu
b.      Hematometra
c.       Tumor kandungan (miama uteri)
d.      Kandung kemih penuh
e.       Kista ovarium
(Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan : 127
ANTE NATAL CARE

1.      Definisi
Ante natal care adalah perawatan yang diberikan pada ibu selama masa kehamilan dan pertumbuhan janin dalam kandungan.
2.      Tujuan Asuhan Antenatal
  1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi
  2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi
  3. Mengenai secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan
  4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin
  5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif
  6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayinya agar dapat tumbuh kembang secara normal
(Pelayanan kesehatan maternal neonatal, 2006 : 90)
3.      Kebijakan Program
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 x selama kehamilan
a.       Satu kali pada triwulan pertama
b.      Satu kali pada triwulan kedua
c.       Dua kali pada triwulan ketiga
Pelayanan / asuhan standart minimal termasuk “ 7 T ”
  1. Timbang berat badan
  2. Ukur tekanan darah
  3. Ukur tinggi fundus uteri
  4. Pemberian imunisasi (tetanus toksoid) TT lengkap
  5. Pemberian tablet darah, minimum 90 tablet selama kehamilan
  6. Tes terhadap penyakit menular seksual
  7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
(Pelayanan kesehatan maternal neonatal, 2006 : 90)
4.      Konsep Pemeriksaan – Pengawasan Antenatal
  1. Anamnesa
-          Data biologis
-          Keluhan hamil
-          Fisiologis
-          Patologis
  1. Pemeriksaan fisik
-          Pemeriksaan fisik umum
-          Pemeriksaan fisik khusus
§         Obstetri
§         Pemeriksaan dalam / rektal
§         Pemeriksaan ultrasonografi
  1. Pemeriksaan psikologis
Kejiwaan dalam menghadapi kehamilan
  1. Pemeriksaan laboratorium
-          Laboratorium rutin
    • Darah lengkap
    • Urin lengkap
    • Tes kehamilan
-          Laboratorium khusus
§         Pemeriksaan torch
§         Pemeriksaan serologis
§         Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal
§         Pemeriksaan protein darah
§         Pemeriksaan golongan darah
§         Pemeriksaan faktor Rh
§         Pemeriksaan air ketuban
§         Pemeriksaan infeksi hepatitis B ibu / bayi
§         Pemeriksaan estriol dalam urin
§         Pemeriksaan infeksi AIDS
  1. Diagnosis kehamilan
-          Kehamilan normal
§         Tanpa keluhan
§         Hasil pemeriksaan laboratorium baik
-          Kehamilan dengan resiko
§         Tinggi / sangat tinggi
§         Yang meragukan
§         Rendah
-          Kehamilan disertai penyakit ibu yang mempengaruhi janin
-          Kehamilan disertai komplikasi
-          Kehamilan dengan nilai nutrisi kurang
-          Diagnosa diferensial
  1. Penatalaksanaan lebih lanjut
  2. Pemeriksaan hamil

5.      Konsep Pemeriksaan Obstetri
  1. Anamnesa
1.      Anamnesa tentang identitas
-          Nama diri sendiri, suami
-          Alamat
-          Pekerjaan
2.      Anamnesa obstetri
-          Kehamilan keberapa
-          Apakah persalinan : spontan B, aterm, hidup atau dengan tindakan
-          Umur anak terkecil
-          Untuk primigravida, lama kawin dan umur
-          Tanggal haid terakhir
3.      Anamnesa tentang keluhan utama
Dikembangkan sesuai dengan lima kemungkinan
  1. Pemeriksaan Fisik
1.      Pemeriksaan Fisik Umum
a.       Kesan umum : komposmentis, tampak sakit
b.      Pemeriksaan
-          Tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu, BB
-          Hal lain yang dipandang perlu
2.      Pemeriksaan Khusus Obstetri
a.       Inspeksi
-          TFU
-          Keadaan dinding abdomen
-          Gerak janin yang tampak
b.      Palpasi
-          Menurut kneble
-          Menurut leopold
-          Menurut boddin
-          Menurut Ahfeld

c.       Perkusi
-          Meteorisme
-          Tanda cairan bebas
d.      Auskultasi
-          Bising usus
-          DJJ
-          Gerak janin intrauterin
-          Hal lain yang terdengar
e.       Pemeriksaan dalam
-          Pembukaan
-          Perlunakan serviks
-          Ketuban
-          Penurunan bagian kepala
-          Penempatan kombinasi
-          Tumor yang menyertai bagian terendah
-          Pelvimetri panggul
f.       Pemeriksaan tambahan
-          Pemeriksaan laboratorium
-          Pemeriksaan ultrasonografi
-          Tes pemeriksaan air ketuban
-          Tes pemeriksaan baktenologis
  1. Diagnosis / Kesimpulan
  2. Sikap
  3. Diagnosis banding
  4. Progosa
(Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga untuk pendidikan bidan : 131 – 132)

6.      Palpasi Kehamilan Leopld antara lain
a.       Leopold I        :  Untuk menentukan tuanya kehamilan dan bagian apa yang terdapat dalam fundus
b.      Leopold II       :  Untuk menentukan dimana letaknya punggung anak dan dimana letaknya bagian-bagian kecil
c.       Leopold III     :  Untuk menentukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian bawah anak ini sudah atau belum terpegang oleh pintu atas panggul
d.      Leopold IV     :  Untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan berapa masuknya bagian bawah ke dalam rongga panggul
(Obstetri fisiologis, 1993 : 160 – 166)




EROSIO PORSIO



Servisitis erosi yang pada jaman dahulu sering dipakai, tetapi pada saat sekarang jarang ditemukan servisitis erosi ada di sekitar ostium uteri eksternum suatu daerah yang berwarna merah, kurang lebih serkuler kelainan tersebut bukan erosi dalam arti yang sebenarnya dan bukan akibat luka atau radang, akan tetapi epitel thorak endoservik dengan stroma vaskuler dibawahnya tumbuh sampai diluar ostium uterus eksternum dengan mendesak epitel tatah yang normal.
Dalam hal ini kelainan erosi bukan erosi dalam arti yang sebenarnya dan bukan akibat luka atau radang akan tetapi epitel torak endoservik dengan stroma vaskuler dibawahnya tumbuh di luar atrium uteri eksternum dengan mendesak yang ditemukan di tempat tersebut. Anggapan sekarang ialah apa yang tampak sebagai erosi sebenarnya ialah servicitis kronil.

  • SERVISITIS AKUT

Servisitis Akut adalah infeksi yang dilakukan di endoservik dan ditemukan pada gonerea pada infeksi post partum atau post abortus yang disebabkan oleh sreptococcus dll. Dalam hal ini servik merah membengkak dengan mengeluarkan.
(Sarwono Prawirihadjo, 2005)


  • ETIOLOGI

- Penggunana IUD
- Pemakaian PIL
- Perilaku seksual yang tidak sehat
- Trauma


  • PATOFISIOLOGI

Proses terjadinya erosio portio dapat disebabkan adanya rangsangan dari luar misalnya IUD yang mengandung polythilen yang sudah berkarat membentuk ion Ca, kemudian bereaksi dengan ion sel sehat Po4 sehingga terjadi denaturasi/koagulasi membran sel dan terjadinya erosi portio. Bisa juga dari gesekan benang IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan superfisialis terkelupas dan terjadilah erosi portio. Dari posisi IUD yang tidak tepat menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga menimbulkan sekresi sekret vagina yang meningkatkan dan menyebabkan keretanan sel superfisialis dan terjadilah erosi portio. Dari semua kejadian erosi portio itu menyebabkan tumbunya bakteri patogen, bila sampai kronis menyebabkan metastase keganasan leher rahim.

Gejala Erosi Portio
a. Adanya fluxus
b. Portio terlihat kemerahan dengan batas tidak jelas
c. Adanya kontak bloding
d. Portio teraba tidak rata

Komplikasi Erosi Portio
- Terjadi keganasan

Penanggulangan
a. Membatasi hubungan suami istri
b. Menjaga kebersihan vagina
c. Lama pemakaian IUD harus dan perhatikan


  • SERVISTIS KRONIKA

Penyakit ini dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan luka-luka kecil/besar pada servik karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman ke dalam endoservik dan kelenjar-kelenjarnya lalu menyebabkan infeksi menahun.
Servik kelihatan normal hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infitrasi leokosit ke dalam stroma endoservick, servitis tidak menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran sekret yang agak putih – kuning.
Porsio uteri disekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan yang tidak dipisahkan secara jelas daei epitel porsio disekitarnya sekret yang dikaluarkan terdiri atas mucus bercampur darah.
Robekan pada servick uteri disini lebih luas mukosa indoservick lebih kelihatan dari luar (ekstropion). Mukosa dalam keadaan demikian mudah terkena infeksi vagina karena radang menahun, servick bisa menjadi hipertropis dan mengeras, sekret puruen bertambah banyak.


  • TERAPI

Pengobatan loka dengan obat-obatan tinkstura jadi, larutan nitrat argentii tidak daoat menyembuhkan servicitis kronikan karena tidak dapat mencapai kuman-kuman yang bersaran dan dalam kelenjar.
Pengobatan yang baik adalah dengan jalan kauterisasi radiasi dengan termocauter atau dengan krioteraphy. Sesudah kauterisasi atau krioteraphy terjadi nekrosis, jaringan yang meradang terlepas dalam kira-kira 2 minggu dan diganti jaringan yang sehat. Jika radang menahun mencapai endoservik jauh ke dalam kanais servikalis perlu dilakukan konisasi dengan mengangkat sebagian besar mukosa endoservik.


  • EROS SERVISI UTERI

Erosi servisis uteri ada disekitar ostium eksternum suatu daerah yang berwarna merah, kurang lebih sirkuler. Kelainan ini bukan erosi dalam arti sebenarnya dan bukan akibat luka atau radang tetapi epitel torak endoservik dengan stoma vaskuler dibawahnya tumbuh sampai diluar ostium ditempat tersebut.
Anggapan sekarang ialah apa yang tampak sebagai erosi sebenarnya ialah servista kronik erosi menurut istilah lama yang ditemukan pada bayi sebagai erosi servisis kongenita. Pada bayi dapat ditemukan epitel torak endoservik sampai diluar ostium uteri eksternum keadaan tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Erosi servik adaah infeksi pada servik uteri, infeksi uteri dapat terjadi karena luka kecil bekas persalinan yang tidak dirawat dan infeksi karena hubungan seks. Erosi servik yang akut sering dijumpai pada infeksi hubungan seks. Sedangkan yang bersifat menahun dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah bersali.


  • GEJALA KLINIK


  1. Terdapat keputihan
  2. Mungki terjadi kontak berdarah (saat hubungan seks terjadi perdarahan)
  3. Pada pemeriksaan terdapat perlukaan servick yang berwarna merah
  4. Pada umur diatas 40 tahun perlu waspada terhadap keganasan servick.


Monday, January 16, 2012

HEPATITIS B

Hepatitis B adalah Penyakit yang dapat merusak hati dan dapat berlangsung lama dan menjadi berat. Penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B, suatu anggota Family Hevadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi kanker hati.

Hepatitis B dapat dicegah untuk menghindari resiko penularan virus secara seksual atau oleh darah yang tercemar, dengan cara perlindungan pasif, dimana antibodi-antibodi terhadap virus hepatitis B di berikan kepada pasien, yang lainnya adalah perlindungan aktif atau vaksinasi, yang menstimulasi tubuh untuk menghasilkan antibodi-antibodinya sendiri.

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB).Virus ini pertama kali ditemukan oleh Blumberg pada tahun 1965 dan dikenal dengan nama antigen Australia.Virus ini termasuk DNA Virus.
Virus hepatitis B berupa partikel 2 lapis berukuran 42 nm yang disebut “Partikel Dane”.Lapisan luar terdiri atas antigen HbsAg yang membungkus partikel inti (core).Pada inti terdapat DNA VHB polimerase. Pada partikel ini terdapat Hepatitis B core antigen (HbsAg) dan hepatitis B e antigen (HbeAg) antigen permukaan (HbsAg) terdiri atas lipoprotein. Virus hepatitis B mempunyai masa inkubasi 45-80 hari, rata-rata 80-90 hari

Gejala :
Umumnya tidak ada gejala dan tanda-tanda selama bertahun-tahun atau seumur hidup.Infeksi sering kali tidak disertai gejala apapun, akan tetapi pada hepatitis B akut memiliki gambaran ikterus yang jelas. Hepatitis B akut memiliki gambaran gejala klinis yang terjadi 3 fase,yaitu: 

  1. Fase Praikteriak ( prodromal)
    Gejala non spesifik,permulaan penyakit tidak jelas,demam tinggi,anoreksia,mual,nyeri didaerah hati di sertai perubahan warna air kemih menjadi gelap. Pemeriksaan laboratorium mulai tampak kelainan hati (kadar billirubin serum,SGOT,dan SPGT,fosfatose alkali meningkat).
  2. Fase Ikterik
    Gejala demam dan gastrointestinal tambah hebat di sertai hepatomegali dan splenomegali, timbulnya ikterus makin hebat dengan puncak pada minggu kedua. Setelah timbul ikterus, gejala menurun dan pemeriksaan laboratorium tes fungsi hati abnormal.
  3. Fase Penyembuhan
    Fase ini ditandai dengan menurunnya kadar enzim amino transferase, pembesaran hati masih ada dan terasa nyeri, pemeriksaan laboratorium menjadi normal.

KOMPLIKASI
Komplikasi hepatitis B adalah bisa menjadi hepatitis kronis dan menimbulkan pengerasan hati ( cirrhosis hepatis), kanker hati ( Hepatc Cellular Carsinoma),gagal hati dan menimbulkan kematian.

PENANGGULANGAN/ PENCEGAHAN

Pencegahan merupakan upaya terpenting karena paling efektif terhadap infeksi virus Hepatitis B, yaitu:
  1. Imunisasi terhadap hepatitis B pada bayi baru lahir.
  2. Hindari hubungan badan dengan orang yang terinfeksi.
  3. Hindari penyalahgunaan obat dan pemakaian bersama jarum suntik.
  4. Hindari pemakaian bersama sikat gigi, sisir, ataupun alat cukur.
  5. Hindari melalui kontak darah dengan orang yang terinfeksi.
  6. Pencegahan metode-metode imunologi ( immunoprophylaxis)

KONSEP DASAR FRAKTUR

  1. Pengertian Fraktur
  2. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,2001) Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.( reeves C.J.Roux G & Lockhart R,2001 )
  3. Prevalensi
  4. Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada Usia prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon.
  5. Jenis fraktur
    1. Complete fraktur ( fraktur komplet), patah pada seluruh garis tengah tulang, luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
    2. Closed frakture ( simple fracture ), tidak menyebabkan robeknya kulit. integritas kulit masih utuh.
    3. Open fracture (compound frakture / komplikata/ kompleks), merupakan fraktur dengan luka pada kulit (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
    Fraktur terbuka digradasi menjadi: Grade I: luka bersih, kuaiang dari 1 cm panjangnyaT Grade IIy: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif Grade III y sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.
    • Greenstick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.
    • Transversal, fraktur sepanjang garis tengah tulang
    • Oblik, fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang
    • Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang
    • Komunitif, fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
    • Depresi, fraktur dengan frakmen patahan terdorong kcdalam ( sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah )
    • Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
    • Patoogik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit ( kista tulang, paget, metastasis tulang, tumor)
    • Avulsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada pelekatannya.
    • Epifisial, fraktur melalui epifisis
    • Impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.
  6. Manifestasi Klinis
  7. Nyeri terus menerus, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitus, pembengkakan lokal dan perubahan warna.

Pemeriksaan
    • Tanda dan gejala kemudian setelah bagian yang retak di imobilisasi, perawat perlu menilai pain (rasa sakit), paloor ( kepucatan/perubahan warna), paralisis (kelumpuhan/ ketidakmampuan untuk bergerak ), parasthesia ( kesemutan ), dan pulselessnes (tidak ada denyut)
    • Rotgen sinar X
    • Pemeriksaan CBC jika terdapat perdarahan untuk menilai banyaknya darah yang hilang.
Penatalaksanaan
      Segera setelah cidera perlu untuk me- imobilisasi bagian yang cidera apabila klien akan dipindahkan perlu disangga bagian bawah dan atas tubuh yang mengalami cidera tersebut untuk mencegah terjadinya rotasi atau angulasi.
    Prinsip penanganan fraktur meliputi:
    ReduksiReduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis Reduksi tertutup, mengembalikan fragmen tulang ke posisinya ( ujung ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat yang digunakan biasanya traksi, bidai dan alat yang lainnya. Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku.
    ImobilisasiImobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksterna dan interna Mempertahankan dan mengembalikan fungsi Status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan. Perkiraan waktu imobilisasi yang dibutuhkan untuk penyatuan fraktur Lamanya (minggu)
    • Falang(jari)
    • Metakarpal
    • Karpal
    • Skafoid
    • Radius dan ulna
    • Humerus ( Suprakondilsr, Batang, Proksimal (impaksi ), Proksimal (dengan pergeseran)
    • Klavikula
    • Vertebra
    • Pelvis
    • Femur (Intrakapsuler, Intratrohanterik, Batang, Suprakondiler )
    • Tibia (Proksimal, Batang, Maleolus)
    • Kalkaneus
    • Metatarsal
    • Falang (jari kaki) 3-5

Friday, June 3, 2011

Ketuban Pecah Dini

Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung, ketuban pecah dini merupaan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi khoniomniotis sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu.
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia serta adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan.
  • Macam-macam kelainan pada air ketuban
  1. Polyhidramnion = hidramnion
    Yaitu air ketuban paling banyak pada minggu ke-38 sebanyak 1030 cc pada akhir kehamilan tunggal 790 cc dan terus berkurang sehingga pada minggu ke-43 hanya 240 cc.
  2. Oligohydramnion
    Jika air ketuban kurang dari 500 cc
  • Fungsi air ketuban
  1. Saat hamil sedang berlangsung
    Memberikan kesempatan berkembang 4 janin dengan bebas ke segala arah
    Menyebabkan tekanan bila terjadi trauma langsung
    Sebagai penyangga terhadap panas dan dingin
    Menghindari trauma langsung terhadap janin
  2. Saat Inpartu
    Menyebabkan kekuatan his sehingga serviks dapat membuka
    Membersihkan jalan lahir karena mempunyai kemampuan sebagai desinfektan
    Sebagai pelicin saat persalinan
  • Penentuan Klinik
  1. Tentukan pecahnya selaput ketuban. Pecahnya selaput ketuban ditentukan dengan adanya cairan ketuban dari vagina jika tidak ada dapat dicoba dengan digerakkan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien, batuk/mengejan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitratin test) merah menjadi biru membantu dalam menentukan jumlah ciran ketuban dan usia kehamilan serta kelainan janin.
  2. Menentukan usia kehamilan bila perlu dengan pemeriksaan USG
  3. Menentukan ada tidaknya infeksi (suhu) 380C, air ketuban yang keruh dan berbau, leukosit darah > 15.000/mm3
  4. Menentukan tanda-tanda inpartu
  • Penanganan ketuban pecah dini
  1.  Konservatif
    Rawat di rumah sakit
    Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau), berikan antibiotik sama hanya jika terjadi Amnionitis
    Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu ibu dan janin, yaitu Ampicilin 4 x 500 mg selama 7 hari ditambah eritnomisid 250 mg peneral 3 kali perhari selama 7 hari.
    Berikan kersikosteroid kepada ibu untuk memperbaiki kematangan paru janin yaitu Betametason 12 mg I M dalam 2 dosis setiap 12 jam atau Deksametason 12 mg I M dalam 4 dosis setiap 6 jam dan jika ada infeksi jangan berikan kortikosteroid.
    Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu
    Jika terdapat His dan darah bercampur lender, kemudian terjadi persalinan preterm.
    Jika tidak terdapat infeksi dan kehamilan > 37 minggu
    Jika ketuban pecah > 18 jam, berikan antibiotik profilaksis untuk mengurangi resiko infeksi, streptokokus grip B yaitu amphisilin 2 gr IV setiap 6 jam/persilin 62 juta unit IV.
    Niai serviks belum matang lakukan induksi persalinan dengan Oksitosin. Jika belum matang, berikan prostaglandin 5 infus Drip oxytosin/sc.
Prinsip Dasar
  • Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
  • Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi khoriomnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan menyebabkan infeksi ibu.
  • Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
  • Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda-tanda persalinan.
Penilaian Klinik
  • Tentukan pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (Nitrazin test) merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, kelainan janin.
  • Tentukan usia kehamilan bila perlu dengan pemeriksaan USG
  • Tentukan ada tidaknya infeksi, tanda-tanda infeksi bila suhu ibu ³ 380 C, air ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA (leukosit estrase). Leukosit darah > 15.000/mm3. Janin yang mengalami tekhikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterin.
  • Tentukan tanda-tanda inpartu. Tentukan adanya kontraksi yang teratur, periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan) antara lain untuk menilai skor pelvik.
Penanganan
  • Konservatif
  1. Rawat di rumah sakit
  2. Berikan antibiotika (ampisilin 4 x 500 mg atau entromisin bila tak tahan ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
  3. Jika umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
  4. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes basa negatif beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
  5. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
  6. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.
  7. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi intrauteri)
  8. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitinm dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
  • Aktif
  1. Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprostot 50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
  2. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi, dan persalinan diakhiri.
  • Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea.
  • Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam
(Sumber : Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal hal : 218-219)

Interested for our works and services?
Get more of our update !